by

Syarikat Islam: Meretas Jalan Kemandirian Ekonomi Umat pada Zaman yang Terus Berubah

-Uncategorized-663 views


Langit Jakarta terlihat “bersahabat” saat saya memasuki area kantor Syarikat Islam, Jl. Diponegoro No. 43 Jakarta, Sabtu (12/8) pagi. Keteduhan pepohonan di kawasan tersebut terasa menyejukkan suasana terik saat saya menapakkan kaki masuk di tempat pelaksanaan Ngobrol Bareng Syarikat Islam bersama Ketua Umum Syarikat Islam DR. H. Hamdan Zoelva, S.H., M.H.

Setelah melakukan registrasi ulang, saya menikmati kopi serta kudapan yang disediakan oleh panitia. Saya menyapa Basri Kinas Mappaseng, bendahara Syarikat Islam dan Ana Mustamin, CEO Indonesia Berzakat yang juga adalah senior saya sesama alumni Universitas Hasanuddin. Saya juga mengajak keduanya berfoto bersama sebelum acara dimulai.

Acara dimulai pukul 10.30 pagi yang dipandu oleh Ana Mustamin yang aktivitas kesehariannya saat ini adalah direktur HRD Asuransi Bumiputera. Sebagai narasumber, tampil Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam (SI) Indonesia DR. Hamdan Zoelva, S.H., M.H. yang juga merupakan mantan ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia periode 2013-2015.

Mengawali obrolan pagi itu, Hamdan Zoelva menceritakan bagaimana dan mengapa ia sampai bergabung di Syarikat Islam. “Saya dibesarkan dalam lingkungan tradisi keluarga santri yang kental. Ayah saya KH. Muhammad Hasan, B.A., merupakan pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukhlisin di Bima. Dan tentu saja, Syarikat Islam bukanlah hal yang baru untuk saya karena kerap kami–baik di lingkup keluarga maupun pergaulan–banyak membahas serta mendiskusikan kiprah organisasi ini dalam hubungannya penguatan ekonomi umat. Saya sangat tertarik menjadi bagian di dalamnya dan membangunnya dengan baik untuk kemaslahatan bersama,” tutur pria kelahiran Bima, 21 Juni 1962 yang menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar dan Fakultas Syari’ah IAIN Alaudin, Makassar.

Selanjutnya, wakil ketua komisi II dewan perwakilan rakyat republik Indonesia (1999-2004) ini memaparkan sejarah kelahiran Syarikat Islam/Sarekat Islam (disingkat SI). Organisasi ini dahulu bernama Sarekat Dagang Islam (disingkat SDI) didirikan oleh Haji Samanhudi pada tanggal 16 Oktober 1905. Sarekat Dagang Islam merupakan organisasi pertama yang lahir di Indonesia.

Pada awalnya organisasi Sarekat Islam yang dibentuk oleh Haji Samanhudi ini merupakan perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang menentang masuknya pedagang asing yang ingin menguasai ekonomi rakyat. SDI merupakan organisasi ekonomi yang berdasarkan pada agama Islam dan perekonomian rakyat sebagai dasar penggeraknya. Organisasi ini terus berkembang pesat dan menjadi ikon pergerakan umat di bidang ekonomi.

“Karena tuntutan zaman ketika itu serta keinginan kuat untuk ikut terlibat secara langsung di kancah politik praktis, SI bertansformasi menjadi partai politik bernama partai syarikat Islam Indonesia (PSII). Pada Pemilu 1955 PSII menjadi peserta dan mendapatkan 8 (delapan) kursi parlemen. Kemudian pada Pemilu 1971 pada zaman Orde Baru, PSII di bawah kepemimpinan H. Anwar Tjokroaminoto kembali menjadi peserta bersama sembilan partai politik lainnya dan berhasil mendudukkan wakilnya di DPRRI sejumlah 12 (dua belas orang). Seiring waktu, SI berkomitmen kembali ke khittah awal sebagai organisasi masyarakat yang bertujuan menegakkan martabat dan kedaulatan ekonomi umat dan bangsa. Pergerakan itu diterapkan lewat dakwah ekonomi seperti membangun semangat berwirausaha serta mendorong spirit tolong menolong dalam mengembangkan usaha di kalangan umat Islam,” kata Hamdan Zoelva yang terpilih sebagai Ketua Umum SI pada acara majelis taklim ke-40 di Bandung tahun 2015 tersebut.

“Perlu dipahami,” ungkap advokat, akademisi, dan politikus terkemuka ini. “Fokus kami pada gerakan ekonomi tidak berarti bahwa SI meninggalkan gerakan politik, dakwah, dan pendidikan. Dienul Islam tetap menjadi dasar bagi gerakan ekonomi, menjadi panduan etik, moral, serta hukum dalam menjalankan ekonomi. Pada sisi politik formal, Syarikat Islam akan mengambil jarak yang sama dengan semua partai politik tanpa kecuali. Harapan kami, SI menjadi organisasi masyarakat yang memelopori perbaikan tata ekonomi dan pembangunan ekonomi umat”.

Acara Ngobrol Bareng di akhir pekan minggu kedua Agustus ini berjalan santai, informal dan sarat dengan nuansa kekeluargaan. Di beberapa kesempatan tawa dan canda senantiasa tercetus mencairkan suasana. Pada sesi tanya jawab, menanggapi salah satu pertanyaan peserta mengenai bagaimana SI menyiasati perkembangan dunia digital, fenomena Financial Technology (Fintech)berbasis cashless serta mengakomodir generasi millineal untuk ikut terlibat dalam gerakan kedaulatan ekonomi umat yang dipelopori SI, Hamdan Zoelva menjawab tangkas.

“Perlu dipahami,” ungkap advokat, akademisi, dan politikus terkemuka ini. “Fokus kami pada gerakan ekonomi tidak berarti bahwa SI meninggalkan gerakan politik, dakwah, dan pendidikan. Dienul Islam tetap menjadi dasar bagi gerakan ekonomi, menjadi panduan etik, moral, serta hukum dalam menjalankan ekonomi. Pada sisi politik formal, Syarikat Islam akan mengambil jarak yang sama dengan semua partai politik tanpa kecuali. Harapan kami, SI menjadi organisasi masyarakat yang memelopori perbaikan tata ekonomi dan pembangunan ekonomi umat”.

Acara Ngobrol Bareng di akhir pekan minggu kedua Agustus ini berjalan santai, informal dan sarat dengan nuansa kekeluargaan. Di beberapa kesempatan tawa dan canda senantiasa tercetus mencairkan suasana. Pada sesi tanya jawab, menanggapi salah satu pertanyaan peserta mengenai bagaimana SI menyiasati perkembangan dunia digital, fenomena Financial Technology (Fintech)berbasis cashless serta mengakomodir generasi millineal untuk ikut terlibat dalam gerakan kedaulatan ekonomi umat yang dipelopori SI, Hamdan Zoelva menjawab tangkas.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Hamdan Zoelva yang juga adalah Guest Professor China University of Political Science and Law Beijing, China, mengungkapkan bahwa upaya-upaya pemberdayaan ekonomi umat menjadi agenda utama SI lewat grand design program kerja 2015-2020. Apalagi, menurut catatan hanya 1,6% saja penduduk Indonesia yang berwirausaha dari total jumlah penduduk. Ini rasio yang sangat kecil dibandingkan dengan negara lain. Menurutnya, membangun sistem jaringan dan sumber-sumber ekonomi melalui pengembangan jejaringnya dimulai dari kalangan internal SI.

Program kemitraan dengan usaha-usaha kecil dan mikro berbasis syariat akan ditumbuhkembangkan, termasuk kemungkinan bekerja sama dengan organisasi seperti Forkammi di Cikarang. Pada program kerja SI, kita telah mencanangkan paling tidak 2.500 usaha kecil dan mikro yang dikelola oleh anggota SI dan atau umat Islam dengan target pencapaian selama lima tahun ke depan.

Upaya mendorong anggota SI pada usaha-usaha berbasis koperasi juga terus diupayakan karena menjadi faktor potensial dalam sistem dan pranata ekonomi nasional. Muaranya tentu saja pada kemandirian umat Islam dalam menghadapi kehidupan yang kian berat.

“Tidak hanya itu,” tambah suami dari R.A. Nina Damayanti S.H. dan ayah tiga orang anak, yaitu Muhammad Faris Aufar, Ahmad Arya Hanafi, Ahmad Adib Karam ini. “SI juga terbuka untuk bekerjasama dan bermitra dengan organisasi masyarakat atau lembaga terkait termasuk dari luar negeri. Kami baru saja kembali dari Malaysia dan bertemu dengan Malaysian Technology Development Centre (MTDC). PP Syarikat Islam sedang menyelenggarakan semacam kursus enterpreneurship yang dinamakan Sekolah Dagang Syarikat Islam Hadji Samanhudi. Melalui kursus tersebut diharapkan akan lahir wirausahawan muda muslim Syarikat Islam yang tangguh, mandiri, kreatif, dan berakidah mulia,” katanya.

Menutup perbincangan siang itu, Hamdan Zoelva berharap agar Syarikat Islam menjadi pelopor dalam pemberdayaan ekonomi umat Islam. Dukungan masyarakat secara luas sangat diharapkan dan melalui sosialisasi lewat format acara “Ngobrol Bareng” seperti ini informasi tentang profil SI, serta program-programnya dapat tersebar lebih luas sehingga potensi kolaborasi dan bersinergi di masa depan kian terbuka.

Pada kesempatan tersebut beliau juga memperkenalkan perusahaan di bawah bendera Syarikat Islam yaitu PT Syarikat Dagang Bersama di mana CEO-nya adalah Ir. Basri Kinas Mappaseng. Perusahaan ini membuka diri seluas-luasnya untuk bekerja sama dan bersinergi dengan usaha-usaha umat muslim seluruh Indonesia.

“Kefakiran itu bisa mendekatkan seseorang pada kekafiran. Olehnya itu, mari kita bangun bersama ekonomi umat Islam dengan cerdas, tangkas, dan percaya diri sesuai syariat, selaras dengan Trilogi Syarikat Islam, yaitu sebersih-bersih tauhid, setinggi-tinggi ilmu dan sepandai-pandai siasah,”katanya menutup sesi pagi itu dengan mata berbinar.

Saya bersyukur bahwa dalam acara ini, saya mendapatkan hadiah lomba Twitter terbaik dan terbanyak berhadiah kaos serta buku berjudul Jang Oetama – Jejak & Perjuangan H.O.S.Tjokroaminoto karya Aji Dedi Mulawarman dan Implikasi Pemikiran H.O.S.Tjokroaminoto dalam Manajemen Pendidikan Islam karya Wildan Rusli, M.Pd.I. yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Syarikat Islam DR. Hamdan Zoelva, S.H., M.H.

Saya meninggalkan lokasi acara dengan penuh semangat. Harapan saya, Syarikat Islam menjadi “rumah bersama” umat Islam untuk menyatukan langkah serta pemikiran memberdayakan ekonomi umat. Di era geliat keniscayaan peradaban yang terus bergulir cepat seperti ini, Syarikat Islam memang perlu lebih luas dan tanggap melewatinya dengan strategi yang cerdas.

Sukses selalu untuk Syarikat Islam!

sumber: basrikinasmappaseng.com
Serikat Mahasiswa Muslim Indonesia
Kementerian Pemuda
sumber: www.si.or.id

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.